Mahasiswa STIMI Banjarmasin pelopori Beras Lokal Kemasan Masuk Ritel Modern di Kal-sel

cover-beras

Mahasiswa Sekolah Tnggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Banjarmasin turun kedesa merangkul para petani di kawasan Desa Simpang Arja Barito Kuala dalam hal meningkatkan nilai jual dari produk beras yang dijual petani saat ini, dengan memasuki pasar  ritel Modern serta pusat jajanan oleh-oleh. Hal ini merupakan kelanjutan program Kementerian Desa Tertinggal untuk pengembangan berkelanjutan dimana bagian upaya pengabdian para mahasiswa STIMI Banjarmasin dengan merangkul kelompok petani Mayang Maurai Desa Simpang Arja Kabupaten Barito Kuala.

Beras Unus Mutiara Cap Jembatan Barito kemasan 1 liter sd. 5 literan ini akan dimasukkan kesejumlah ritel modern yang ada di kota seribu sungai dan pusat tempat oleh-oleh khas Banjar sehingga turis local maupun mancanegara . untuk beras kemasan Banjar ini baru pertaa memasuki ritel modern dan pusat jajanan untuk ukuran 1 literan ini sangat mudah dibawa para turis yang sedang berkunjung ke kota seribu sungai.

3

Menurut Ketua STIMI Banjarmasin, Bapak Drs. H. Gusti Suryasari R, MM. “Kami optimis beras Banjar Mutiara dalam bentuk kemasan 1 Literan ini akan sangat disukai sehingga para petani atau kelompok tani banua bias terbantu dalam menjual produksi berasnya karena selama ini setiap musim panen gabah yang mereka jual harganya selalu murah”. Apalagi Kalsel untuk kabupaten Barito Kuala ini termasuk daerah lumbung padi nasional sehingga mahasiswa yang memiliki jiwa kreatifitas tinggi dan melek tekhnologi melakukan inovasi kreatif agar beras petani dapat ditingkatkan lagi nilai jualnya.

Dosen STIMI Banjarmasin, Dra. Titien Agustina, M.Si mengungkapkan, dengan kemasandan label yang bagus, beras local semakin memiliki daya jual tinggi di masyarakat, karena dikemas dalam ukuran 1 Liter, beras tersebut dapat digunakan sebagai oleh0oleh  atau bekal bagi yang bepergian ke luar daerah. Kemudian sebagai produk local dan unggulan, maka sudah sepatutnyalah didukung oleh semua pihak dan ini merupakan salah satu bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi selain pendidikan dan penelitian, jadi kami memberikan sokongan berupa kemasan dan Label.

4

Sementara itu, Nor Anisa & Raudhatul Jannah yang merupakan pelopor ide kegiatan ini yaitu juga merupakan warga dari Desa Simpang Arja yang memproduksi beras tersebut melalui kelompok “Mayang maurai” meyakini bahwa produk local bias menjadi unggulan dan akan disukai oleh konsumen dan telah siap bersaing dengan produk lainnya, agar lebih memberdayakan petani, mereka berharap pemerintah dapat membina melalui pelatihan, misalnya untuk meningkatkan produktivitas. Pembinaan dari pemerintah terhadap petani belum dirasakan optimal, petani hanya diberi traktor tetapi tidak didukung dalam hal peningkatan kapasitas, seperti pendamping desa tidak ada, apparat desa ada tetapi lebihbanyak menangani administrasi, bukan mendampingi petani di lapangan pungkasnya.

2